" Saya bersyukur telah dipertemukan oleh Allah SWT, dua insan yang memang dijodohkan. Saya selalu berkata kepada istri saya, kamu dilahirkan untuk saya, dan saya untuk kamu. Itu yang saya rasakan dalam selluruh tubuh saya". (B.J. Habibie)
Ainun,...Pak ?, hanya dua kopor pakaian ini yang kita bawa, tutur "Ainun pada suaminya" . Ya bu ? istriku sayang hanya berbekal dua kopor pakaian saja ini, insya Allah kita bisa hidup di sana (Jerman). Menurut Makka Makmur (2012:48) dalam bukunya yang berjudul" Biografi Bacharuddin Jusuf Habibie, dari ilmuan ke Negarawan sampai "Minandito"". Menuturkan; Berangkatlah pasangan muda ini menempuh kehidupan baru di rantau orang. Di Aachen mereka menyewa pavillium kecil di jalan Preubweg No.123 dengan tiga kamar yang kecil, tetapi uang sewanya besar. Separo gaji B.J.Habibie yang berjumlah 800 DM atau kira-kira sekitar 180.000,- sebulan waktu itu. Mereka harus mencukup-cukupkan uang 300 DM untuk biaya hidup sebulan. Mengatur uang belanja merupakan masalah utama yang harus dihadapi Ainun. Dia harus pandai-pandai berkelit mencari celah-celah penghematan. "Saya menjahit sendiri baju kantor dan baju sehari-hari," katanya. itulah salah satu cara menghemat.
Pada mulanya Ainun tidak merasa berat hidup di sana karena dibantu oleh seorang pembersih rumah. Ketika Ainun sudah hamil sekitar 4 bulan, mereka merasa rumah yang ditinggalinya akan terlalu kecil kalu bayinya sudah lahir nanti. Mereka menemukan sebuah rumah susun di luar Aachen yang terletak di Oberforstbach. Besarnya lumayan, ada kamar keluarga, kamar tidur, kamar anak-anak, dapur, dan kamar mandi.
Ainun sudah mulai merasa hidupnya agak berat. Berat bukan karena beban pekerjaan di rumah, tetapi karena kesendirian. Oberforstbach adalah sebuah desa. Bila ke Aachen untuk keperluan tertentu, misalnya jika Ainun ingin memeriksakan kandungannya ke dokter, ia harus naik bus. Bus hanya lewat setiap dua jam, pagi dan sore. Ainun merasa sepi sekali, jauh dari keluarga, jauh dari teman-teman, dan jauh dari segala-galanya. Tidak ada orang yang bisa diajaknya mengobrol. Bahasa Jerman pun waktu itu masih kurang dikuasainya. Bahasa Jerman bekal SMA-nya ternyata tidak terlalu menolong. Yang ada hanya B.J. habibie, tetapi suaminya ini pun pulang larut malam. Ia harus bekerja, harus menyelesaikan promosinya.
Penghasilan B.J. Habibie pas-pasan. Ia mendapat setengah gaji seorang Diploma Ingineur, karena bekerja setengah hari sebagai asisten pada Institut Konstruksi Ringan dari Universitas, ia juga menerima tambahan 600 DM dari DAAD, dinas beasiswa Jerman. Untuk menambah penghasilannya, B.J. Habibie atas izin guru besarnya, bekerja sebagai ahli konstruksi pada pabrik kereta api dengan mendesain gerbong-gerbong berkonstruksi ringan. Waktu sangat berharga dan harus diatur ketat; pagi-pagi ke pabrik, kemudian sampai malam di Universitas, pukul 22.00 atau pukul 23.00 malam baru ia sampai di rumah untuk selanjutnya menulis disertasi.
Kemana-mana B.J. Habibie naik bus, bahkan karena kekurangan uang untuk membeli kartu langganan bulanan, dua tiga kali seminggu ia jalan kaki mengambil jalan pintas sejauh 15 km. sepatunya berlubang-lubang; menjelang musim dingin, baru lubang sepatunya ditambal. Karena pengeluaran keluarga tetap meningkat, di samping keperluan sehari-hari, perlu ada tabungan untuk hari depan. Ia pun harus membayar asuransi kesehatan, dan ternyata asuransi kesehatan bagi wanita hamil cukup tinggi karena memperhitungkan segala kemungkinan; rumah sakit, komplikasi dan sebagainya. Untuk menghemat, sejauh mungkin semuanya dikerjakan sendiri. Mulailah Ainun belajar sendiri menjahit, lama-kelamaan hasil jahitannya tidak terlalu jelek. Ia memperbaiki yang rusak, membuat pakaian bayi, merajut, dan menjahit pakaian untuk persiapan menghadapi musim dingin.
Tidak secara kebetulan barang yang pertama kali dibeli sebelum anak pertamanya lahir adalah mesin jahit, bukan mesin cuci, bukan oven yang serba otomatis, dan bukan pula perlengkapan lainnya, tetpai mesin jahit. Itu pun sebagai hadiah ulang tahun Ainun yang ke 25, ada tanggal 11 Agustus 1962. itulah prioritasnya waktu itu, mesin jahit diperlukan untuk membuat persiapan-persiapan. Dengan bertambahnya anggota keluarga mereka, tentu biaya hidup meningkat, untuk makanan bayi, untuk dokternya, obat, dan lain-lain.
Hidup bagi mereka benar-benar prihatin. Hidup benar-benar keras. tetapi ada hikmanya. Dimasa-masa inilah Ainun belajar untuk hidup berdikari. Ia belajar menggunakan waktu secara maksimal sehingga semua dapat terselesaikan dengan baik; mengatur menu sehat, membersihkan rumah, menjahit pakaian, melakukan permainan edukatif dengan anak, menjaga suami, membuat suasana rumah yang nyaman. pokoknya, semua itu Ainun lakukan agar sang suami dapat memusatkan perhatian pada tugas-tugasnya. Ainun belajar tidak menggangu konsetrasi suaminya dengan persoalan-persoalan di rumahnya.
Hidup mereka pas-pasan, tetapi dalam hidup pas-pasan begitu ada kebahagiaan tersendiri. Mereka berdua ternyata dapat saling menghayati perasaan dan pikiran masing-masing tanpa bicara. Bahkan, di antara keduanya bisa terbentuk komunikasi tanpa bicara, semacam telepati. Tanpa di beritahu sebelumnya, seringkali karena tidak sempat,, mereka dengan sendirinya melakukan sesuatu tepat seperti yang diinginkan satu sama lainnya. saya bersyukur telah dipertemukan oleh Allah SWT, dua insan yang memang dijodohkan. Saya selalu berkata kepada istri saya, kamu dilahirkan untuk saya, dan saya untuk kamu. Itu yang saya rasakan dalam seluruh tubuh saya. "Kata B.J. habibie kepada Ainun".
Tugas lain bagi Ainun sebagai istri ialah "Tut Wuri Handayani" di belakang memberi semangat. Habibie pernah patah semangat ketika tesis yang sudah dibuatnya separuh jalan, tiba-tiba tak dapat dilanjutkan karena diambil alih oleh Profesor pembimbingnya. "Tugas saya", kata Ainun, "harus menyuntukkan semangat baru". Semangat itu berkobar kembali saat B.J. Habibie mendapat ide baru untuk tesisnya atas petunjuk Profesor pembimbingnya, yakni membuat konstruksi pesawat terbang yang dapat terbang tujuh kali kecepatan suara. di tengah jalan B.J. habibie terkulai lagi."pusing" katanya"perhitungan meleset". Lalu apa yang dapat diperbuat Ainun ? Dia mencoba memberi ilham kepada suaminya. "Coba deh teliti lagi. Barangkali masukan datanya yang keliru," ujarnya. Habibie tersentak, " La ya, barangkali masukan datanya..." gumamnya.
Ainun merasa berbahagia malam-malam hari berdua di kamar. B.J. Habibie sibuk di antara kertas-kertasnya yang berserakan di tempat tidur, Ainun menjahit, membaca, atau berbuat yang lainnya. Ia terharu juga bila pada saat-saat tertentu melihat suaminya membantu tanpa diminta; seperti mencuci piring, atau mencuci popok bayi yang ada isinya.
Tahun itu juga, B.J. Habibie memperoleh pekerjaan di Hamburg. Gajinya bertambah, dan impian mereka selama bertahun-tahun terwujud, mereka membeli mesin cuci. selesailah masa-masa membawa cucian besar berkarung-karung naik bus ke Aachen untuk dimasukkan ke mesin cuci sewaan dan dibawa pulang setelah selesai belanja sambil jalan-jalan dengan ilham. Mereka belum bisa pindah ke Hamburg. Selama tiga bulan pertama B.J. Habibie pulang balik dari Aachenke Hamburg. Di hamburg, kesibukannya meningkat sekali. Hidup B.J. Habibie sungguh tersita oleh pekerjaan. Persoalan-persoalan yang harus diselesaikannya bertambah berat. Meski demikian, segala persoalannya ditanganinya dengan gigih. Semangat dan energinya memang lebih dari rata-rata orang. Ainun dan Ilnham terbawa dalam kehidupannya waktu B.j. Habibie untuk anak-anak makin harus di curi-curi. Mulailah Ainun merangkap menjadi ayah dan sopir anaknya B.J. Habibie menghendaki istrinya mengikuti dan mengimbangi kemajuan karirnya. Tanpa mencampurinya, Ainun harus bergaul dengan lingkungan kerja B.J. Habibie selingkar; ilmu, teknologi, bisnis internasional pada tingkat yang semakin tinggi. Memang hal ini cukup berat bagi Ainun, sebab ia mulai harus meninggalkan anak-anaknya. Ia terkadang merasa terenyuh melihat rambut anaknya menjadi gondrong setelah di tinggal berminggu-minggu, apalgi kalau mendengar bahwa anaknya tidak mau makan karena masakannya. Tetapi Ainun sadar, mengimbangi suaminya merupakan suatu keharusan. Ada semacam hukum alamnya; istri yang tidak mengikuti suami akan ditinggalkan. Dan Ainun pun bersyukur karena anaknya bisa mengerti keadaan ibunya, bahkan membantunya.
Thareq Kemal anak kedua mereka lahir ketika mereka sudah pindah rumah di Hamburg. Anak-anak ini tumbuh dengan cepat. Musim pun berganti, pakaian anak harus di ganti setiap musim. Ilham dan Thareq harus sekolah. Keluarga bertambah biaya, biaya asuransi meningkat. Timbullah kebutuhan baru buat mereka membeli rumah; mereka tidsk tahu bahwa berapa lama mereka harus hidup merantau. Setelah Thareq agak besar, umurnya sekitar 4 tahun, Ainun memberanikan dirinya bekerja. Hal ini di rasakan Ainun sebagai keputusan tersendiri. Ia merasa mengimbangi penghasilan suaminya. Ia bahkan bisa membantu suaminya membeli tanah dan rumah di Kakerbeck yang terletak jauh dari kota.
Waktunya memang terbatas, sehari penuh di rumah sakit. Pengalaman itu ternyata membuat ibu muda Ainun menjadi shock. Ia merasa bersalah dan rugi mengorbankan waktu keluarga. Mungkin juga karena dalam diri saya tak ada bakat jaddi wanita karir. Menghadapi problem begitu saya tak mampu mengatasi, katanya.
Begitulah suami-istri lalu berunding. Yang lebih maju dan berpenghasilan lebih besar harus jadi penopang keluarga. Seba itu, mereka sepakat salah satu harus mengalah. " Saya lebih dibutuhkan di belakang layar." kata Ainun.
Tetapi ketika itu tiba-tiba Thareq sakit keras pada waktu berumur 6 tahun. Bagi Ainun, terasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia sehari-hari mengurusi anak orang lain, padahala anak sendiri tidak terawat. Maka ia kembali pada falsafah hidupnya sewaktu di Oberforstbach, yakni falsafah yang mengutamakan anak dan keluarga daripada mencari kepuasan profesional dan penghasilan tinggi.
Sejak itu dokter Ainun melepas pekerjaan untuk mencurahkan perhatian pada keluarga. Ia mendampingi suami dan anak-anak. Kesibukan jadi ibu rumah tangga membuat saya tak terpikir lagi jadi dokter.
Karier suami yang semakin maju membuat Ainun tak harus mengurus rumah tangga melulu. Ia tak sempat lagi menjahit karena sering ikut ke manca Negara. Ainun sudah mulai sibuk mengikuti turne-turne B.j. Habibie, sebab waktu itu Ia sudah bekerja di MBB. Terkadang mereka sampai 6 minggu, ke Amerika dan tempat-tempat lainnya. di antara mereka memang ada semacam gentlemen's agreement." Pertama, dalam satu rumah tangga tidak bisa ada dua kapten. Jadi, Bapak sebagai Bapak selain mencari nafkah juga perlu memupuk karier. Dan untuk itu, ia memang sangat energetik. Saya sadar tidak boleh menjadi faktor penghambat. Kedua, saya sokong sepenuhnya apa yang dikerjakannya. Karena sampai sekarang saya percaya apa yang dikerjakannya itu bukan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, tapi untuk idealismenya. Dan sejak muda yang saya kagumi sekali jstru nasionalismenya. Begitu lama tinggal di Eropa, nasionalismenya justru makin tumbuh. Kadang-kadang saya menemukan potret-potret yang di belakangnya di tulis syair-syair. Syairnya tentang Indonesia. Memang dari dulu jiwanya untuk pembangunan, "Kata Ainun. Mengenang masa hidupnya merantau di Jerman Barat.
" Saya sangat sulit mengatakan dengan pasti, bahwa; apa yang tersirat dalam kehidupan Ainun bersama suaminya B.J. Habibie merupakan hal dan harus di contoh !. B.J. Habibie dan Ainun dua insan yang di pertemukan dalam keadaan yang sulit di percaya, namun di sisi lain, kita tetap merasa kagum atas apa yang mereka sumbangkan untuk bangsanya".
Mantan Presiden Bapak B.J. Habibie, saat ini ia kembali seperti rakyat biasa, kesan orang dari luar mungkin memperkirahkan Ia sudah dapat menukmati hari tuanya, membaca, berkumpul selalu dengan keluarga, terlepas dari dunia luar dan tidak mau tahu apa yang terjadi dengan bangsa Indonesia. Ternyata semua itu keliru. B.J. Habibie masih seperti semula, perhatiannya kepada masalah kesejahteraan rakayt tidak berubah seperti ketika ia masih menjabat dalam pemerintahan. Ia tetap peduli dengan lingkungannya. "Bagaimana saya bisa tentram jika melihat sekeliling saya masih memprihatinkan" katanya pada suatu ketika. Bedanya, kini ia tidak bisa terjun langsung kelapangan atau turun rembuk dalam kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah. Tetapi ia tetap masih seperti dulu, hatinya selalu mendidih jika melihat kesenjangan dalam masyarakat yang tidak kunjung selesai ( A.Makmur Makka, 2012).
Pada Anda yang berkunjung, penulis ucapkan terima kasih, semoga apa yang di dapat dari hasil bacaannya di jadikan pengalaman yang sangat berharga dan di implementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Amin.. Thank's.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar